Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia terus menghadapi tingginya jumlah bencana alam, terutama bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, cuaca ekstrem, dan kebakaran hutan. BNPB mencatat bahwa pada tahun 2023 terjadi 4.940 bencana, dengan banjir menjadi salah satu kejadian terbanyak dan menyebabkan lebih dari 9 juta penduduk terdampak serta puluhan ribu rumah rusak. Memasuki tahun 2024, hingga akhir Desember tercatat 1.929 kejadian bencana, didominasi banjir, kebakaran hutan, dan cuaca ekstrem. Situasi terus berlanjut pada tahun 2025, di mana hingga Oktober sudah terjadi lebih dari 2.535 bencana, dengan banjir mencapai lebih dari seribu kejadian dan berdampak besar pada pemukiman serta infrastruktur.

Dampak bencana tersebut dirasakan di berbagai wilayah Indonesia. Banjir besar yang melanda sejumlah daerah, seperti Sumatra Barat, Sulawesi Selatan, dan Jawa, menimbulkan kerusakan rumah, fasilitas umum, hingga memaksa ribuan warga mengungsi. Erupsi gunung api, seperti Gunung Marapi di Sumatra Barat dan Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores, turut menambah kompleksitas penanganan bencana dengan memaksa lebih dari 16.000 warga harus dievakuasi demi keselamatan. Selain itu, beberapa bencana besar seperti banjir bandang di Sumatra Barat dan longsor di Sulawesi menambah jumlah korban jiwa dan kerugian material.

Pemerintah melalui BNPB, BPBD, serta berbagai lembaga kemanusiaan terus melakukan upaya mitigasi dan penanganan, mulai dari evakuasi warga, pendirian posko, distribusi logistik, hingga perbaikan infrastruktur yang rusak. Namun, laporan resmi menunjukkan bahwa 99% bencana di Indonesia kini dipicu faktor hidrometeorologi, dan perubahan iklim meningkatkan risiko kejadian cuaca ekstrem. Hal ini menegaskan perlunya penguatan sistem mitigasi berbasis masyarakat, peningkatan infrastruktur yang lebih tahan bencana, serta kolaborasi lintas sektor untuk mengurangi risiko dan dampak bencana di masa mendatang.

Sumber:
Badan Nasional Penanggulangan Bencana